Friday, October 24, 2014

OSCAR MURILLO: "BASQUIAT ABAD KE-21"

7777777

OSCAR MURILLO: "Basquiat abad ke-21"

Usianya baru 28 tahun. 
Karyanya agresif dan dekoratif.
Kolektor seni dan fansnya yang lain menjulukinya sebagai Basquiat baru, atau “Basquiat abad ke-21”. Gaya rambutnya pun meniru gaya rambut Basquiat.

Bulan September, sebuah lukisan Murillo yang sebelumnya  dibeli seharga $ 7.000 AS pada tahun 2011, terjual dengan harga $ 401.000 AS di balai lelang  Phillips; pada bulan Februari, sebuah lukisan yang dibuat tiga tahun lalu, dengan tulisan BURRITO di atasnya, terjual seharga $ 322.000 AS di balai lelang Christie, dan harga karyanya yang lain juga telah melonjak  sebanyak 3.000 persen hanya dalam waktu dua tahun.

Oscar Murillo lahir, dan menghabiskan sepuluh tahun pertama hidupnya, di La Paila, sebuah kota kecil di Cauca Valley, Kolombia, di mana tebu telah ditanam sejak dibawa oleh Spanyol di abad ke-16. Budak dari Afrika yang diimpor untuk bekerja di perkebunan, dan sampai hari ini keturunan mereka, sekarang dengan warna kulit bercampur, masih tinggal di sana, banyak bekerja dalam industri gula. Selama hampir satu abad, perusahaan lokal Colombina dimiliki oleh keluarga Caicedo, baron gula berkulit lebih terang daripada pekerja mereka dan mengendalikan segalanya mulai dari peternakan hingga pabrik permen yang luas sampai ke liga sepak bola lokal.


Murillo tinggal di London.

[sumber: 
http://www.vulture.com dan http://www.nytimes.com]

ydb, washington dc, usa, 24.10.2014
salam damai dan kasih untukmu semesta
jaga bara!


7777777



























Thursday, October 23, 2014

SENIMAN DAN REALITA BARU

7777777

Idealnya, seorang seniman harus dapat menciptakan kenyataan-kenyataan baru atau realita-realita baru melalui karyanya.

Rasa atau pemikiran yang disampaikan sang seniman boleh saja rasa atau pemikiran yang dimiliki oleh banyak orang. Bahkan, rasa dan pemikiran itu dapat bersifat universal.
Tapi seorang seniman kreatif adalah seniman yang dapat memberikan realita baru atau wujud baru yang unik untuk ekspresinya dalam karyanya. 
Dengan kata lain, untuk memudahkan penjelasan mengenai pernyataan di atas, seorang seniman kreatif idealnya harus dapat menemukan atau menciptakan cara baru, wujud baru atau ungkapan baru untuk mengatakan "I love you", atau ekspresi lain "sebangsa" itu.

*
ydb, washington dc. 23.10.2014
berpikir itu nikmat.
jaga bara!


7777777



YDB and Crouching Woman sculpture by Rodin in Washington, D.C.

Crouching Woman was originally executed in 1880-1882 by Auguste Rodin. This casting, number three in an edition of twelve, was done in 1953. It was acquired as a gift of Joseph H. Hirshhorn in 1966, purchased from the Curt Valentin Gallery in 1955.

Wednesday, October 22, 2014

VIDEO: PART 2 - THE BIRTH - A PERFORMANCE ART


7777777

PART 2 OF 'THE BIRTH' - A PERFORMANCE ART

Music: Scott Larson, Afdal Koto, Muryanto
Video: Supri Yono
Audio System & Lighting: Irwan Rosyadi

Set: Rinni Ray

ydb, washington, dc, 22.10.2014

salam damai dan kasih untukmu semesta
jaga bara!

7777777

Tuesday, October 21, 2014

SENIMAN BUNGLON? BUNGLONISME?

7777777

Karya seni adalah ekspresi jiwa seniman.
Ada karya yang menampakkan dengan jelas jiwa sang seniman, ada pula karya yang tidak menampakkan jiwa sang seniman. 

Karena berbagai hal dan alasan, jiwa sang seniman bisa tertutupi dan gagal hadir dalam karyanya. Mengapa?

Seniman memang harus jujur sejujur-jujurnya dalam berkarya. Dia harus berpegang teguh pada nilai-nilai yang dianut dan diyakininya, bukan saja sebagai seniman, tapi juga sebagai manusia, sebagai individu yang beragama jika ia beragama.

Apa kata jiwanya, itulah yang seharusnya tampil dalam karyanya. Semakin kuat kehadiran ekspresi jiwanya dalam karyanya, semakin kuat dan unik pula karyanya tersebut. 


Tiap-tiap jiwa unik. Dan keunikan karya dalam seni sangat dipuji. Semakin unik karya seniman semakin baik.
Karena itu, seorang seniman haruslah jujur pada dirinya, pada jiwanya, pada ekspresinya sendiri, pada keunikannya.


Seorang seniman seharusnyalah konsisten dalam keseniannya. Dia harus tetap menjadi dirinya, supaya dalam karyanya jiwanya tidak tertutupi.


Tuntutan pasar, tekanan dari kawan-kawan, godaan uang dan ketenaran, dan keinginan disebut sebagai seniman kontemporer, misalnya, dapat mengombang-ambingkan jiwa seniman. 

Seniman yang jiwanya mudah goyah, mudah pula mengubah kulit luar karyanya, sesuai "permintaan" dari luar jiwanya. Dia berhenti menjadi seniman jujur. Dia berhenti menjadi seniman yang konsisten.
Bagaikan kulit Bunglon, penampilan karya seniman itu berubah-ubah sesuai dengan "permintaan" tadi, dan MENGINGKARI tuntutan ekspresi jiwanya. 

Pada saat seperti itu, seniman tersebut dapatlah saya sebut sebagai seniman Bunglon. Dan jika hal itu terus-menerus dilakukannya dalam rentang waktu yang lama - karena berbagai alasan yang saya sebutkan di muka - maka bolehlah pula saya sebut aliran yang dianut seniman tersebut adalah aliran Bunglonisme. :)

*


ydb, washington dc, 22.10.2014
salam damai dan kasih untukmu semesta
jaga bara!

7777777

PERUPA ADE KOESNOWIBOWO: SEBUAH CATATAN SPONTAN DAN SINGKAT


7777777
CATATAN SPONTAN DAN SINGKAT TENTANG LUKISAN SAHABATKU ADE KOESNOWIBOWO

Menurutku, beginilah karya Ade Koesnowibowo yang sesungguhnya! Di sinilah aku melihat Ade yang kukenal: berkarakter, direct/langsung, bebas, berhumor, segar, spontan dalam semua hal...
Menurutku lagi, mungkin karena tuntutan dan tekanan dunia seni, Ade terkesan telah memaksakan dirinya menjadi orang lain...bukan menjadi dirinya sendiri...Maaf ya sahabat.

Ade Koesnowibowo, seingatku, berangkat dari komik....penuh kekocakan.
Aku masih ingat sket-sket yang dibuatnya pada tahun2 pertama dia di ASRI. Sangat kocak, direct, garis2nya kuat, segar...meskipun kesan komiknya masih sangat jelas juga.

Menurutku, "kedewasaan" karya2nya hari ini seperti dipaksakan.....seperti lukisannya tentang kelangkaan bensin....masalah gender......falsafah wayang...dll. Terkesan olehku Ade ingin terlihat bahwa dia juga mempunyai pemikiran yang berat dan serius.  Ingatlah: bahkan seorang Picasso sekalipun berusaha seumur hidupnya untuk dapat melukis/berkarya seperti anak2 lagi(tolong bedakan dengan kekanak-kanakan). Dia ingin bisa melukis dengan bebas, direct, spontan....dll.....Tapi Ade terkesan justru ingin meninggalkan kualitas ini.
Apakah karena Ade ingin dianggap "kontemporer"?
Hanya Ade yang tahu....
Maaf sekali lagi de....

Andaikata "gaya" lukisan ngamen itu Ade Koesnowibowo kembangkan dari dulu.....ah....aku kira lukisan2 Ade hari ini sudah sangat dahsyat. Ada kekocakan Ade yang tidak dimiliki oleh Heri Dono, misalnya, meskipun sebagian karya Heri juga kocak, bebas dan spontan.

Menurutku, lukisan Ade Koesnowibowo ini ada kesamaannya dengan lukisan Nyoman Gunarsa. Lukisan Ade ini menurutku adalah versi kontemporer dari lukisan Pak Nyoman. Lukisan mereka sama-sama tentang gerak, bunyi, kebebasan dalam menggaris, membuat bentuk, memilih warna, mengatur komposisi, dlsb. Terlihat nyata kebebasan keduanya dalam berekspresi. Tampak keduanya berhasil mendobrak batasan-batasan yang mengikat.

Perhatikan lukisan Ade. Perhatikanlah gerak tokoh-tokoh dalam lukisannya, bentuknya, warnanya, komposisinya. Perhatikan wajah orang-orang dalam lukisan itu, mulut mereka. Perhatikan posisi kaki mereka. Sungguh bebas dan ekspresif. Lukisan Pak Nyoman juga begitu. Tapi bentuk yang digunakan Pak Nyoman adalah bentuk-bentuk yang diambilnya dari tradisi, yakni tradisi tanah kelahirannya Bali. Sedangkan bentuk-bentuk yang digunakan Ade dalam lukisannya ini adalah bentuk-bentuk masa kini. Dan bentuk-bentuk seperti ini potensinya besar sekali.Jika Ade mau, masih banyak yang bisa digali.
Bagiku yang mengenal Ade, kebebasan dan kesegaran seperti yang kugambarkan di ataslah yang telah hilang dalam lukisan-lukisan Ade hari ini.

Untuk sobat Yusrizal Ibrahim Lamno, pertanyaanku adalah: Betulkah proses yang dijalani Ade selama ini alamiah, seperti dugaanmu? Ataukah Ade Koesnowibowo membuat lukisannya karena "tergoda" oleh "kekuatan" di luar dirinya?

*

ydb, washington dc, 21.10.2014
salam damai dan kasih untukmu semesta
jaga bara!
*tulisan ini langsung dicopy-paste dari komenku di halaman fb sahabatku Ruujs van Diijz.
7777777

SAJAK MA

7777777
MA
Ma, kita punya presiden baru, Ma...
Bagaimana menurutmu?
Apa rasamu dan apa pikirmu?
Happy?
Lima koran kau baca setiap hari
Belum lagi nonton berita di televisi
Siapa yang mati siapa korupsi siapa yang masuk bui
Kau tahu dan selalu ikuti
Sukakah kau pada yang satu ini?
Akan mampukah dia memimpin negeri?
Sebagai nakhoda, akan berhasilkah dia memandu
Kapal besar kita ini?
Apa pikirmu, Ma?
Apa rasamu?
Sudah ya, Ma.
Aku cinta padamu
Seperti biasa, seperti selalu
Daaah...
*
ydb, washington dc, usa, 20.10.2014
salam damai dan kasih untukmu semesta
jaga bara!
7777777


THE BIRTH - A PERFORMANCE ART BY YUNO DELWIZAR BASWIR (PART 1)



7777777

THE BIRTH - A PERFORMANCE ART BY YUNO DELWIZAR BASWIR (PART 1)

*

YDB, Washington DC, 10.21.2014

Salam Damai dan Kasih untukmu Semesta
Jaga Bara!


7777777

Monday, October 20, 2014

INTERVIEW: Anni Si Pelukis Beringin



7777777
INTERVIEW: Anni Si Pelukis Beringin
Pelukis Cerdas, Serius dan Fasih Berartikulasi yang perlu Diamati dan Didengarkan.
ANNI KHOLILAH LUBIS: Seniman Mandailing yang pernah belajar di ISI Padang Panjang, Sumbar, Indonesia.

"Kalau tak ada pohon beringin, lukisanku rasanya ndak lengkap."
"Anni bukan Aldi. Aldi bukan Anni.
Anni adalah Anni."
"Anni ingin mengangkat kembali seni dan budaya Indonesia yang sudah mulai dilupakan."
*
ydb, washington dc, usa, 230914
salam damai dan kasih untukmu semesta
jaga bara!

7777777

Sunday, October 19, 2014

KEPADA PARA PEMIMPIN / TO ALL LEADERS

7777777
KEPADA PARA PEMIMPIN
Apakah kau berada di pucuk pimpinan?
Kekuasaanmu dan kebijaksanaanmu akan sangat menentukan baik-buruknya kinerja dan perilaku orang-orang yang kau pimpin.
Apabila kinerja dan perilaku seseorang yang kau pimpin buruk, ada selalu kemungkinan kau pun bertanggung-jawab atas keburukan itu.
Benarkah dia telah kau pimpin dengan baik?
Kau perhatikankah dia? Pedulikah kau padanya, atau kau hanya membiarkan dia bekerja semaunya?
Adakah kau beri dia kondisi kerja yang membuat kecil kemungkinan baginya untuk berbuat buruk? Kau beri jugakah dia dukungan dan semangat? Kau tunjukkankah padanya kesan yang membuat dia merasa penting dan diperlukan?
Ataukah kau hanya memberinya daftar tugas yang mesti dia kerjakan, lalu dia kau tinggalkan, dan hanya menghakimi kinerjanya setelah 6 bulan?
Kau ajakkah dia berdialog? Kau mintakah pendapatnya sekali-dua?
Dan, apabila kinerjanya buruk, ke pundaknya sajakah kesalahan kau timpakan? Lalu mungkin dia kau pecat dan berhentikan?
*
"Bercermin" adalah juga tugas seorang pimpinan, kau yang tegak di tampuk kekuasaan. Selalu ada kemungkinan kau pun harus menanggung sebagian beban kesalahan.
*
Yuno Delwizar Baswir, Washington DC, 19.10.2014
Berpikir itu nikmat.
Jaga Bara!
7777777

Saturday, October 18, 2014

AKU DAN PIKIRAN TENTANG KEMATIANKU / ME AND MY THOUGHT OF DEATH

7777777
AKU DAN PIKIRAN TENTANG KEMATIANKU
Ketika aku membongkar-bongkar sebuah kotak untuk mencari sebuah buku beberapa hari lalu, aku juga menemukan tulisan ini.
Tulisan ini bertanggal 1 Juli 1985. Itu berarti belum genap 2 tahun sejak kedatanganku di Amerika. Itu juga berarti setahun setelah perceraianku dengan mendiang istriku Mardi. Itu masa yang sulit.
Apa yang ada dalam pikiranku kala itu?
Ini sebagian kecilnya:
"Siapa tau besok mungkin aku mati. Alangkah misteriusnya. Mati muda.
Si Yuno mati muda.
Ya, siapa tau, itu mungkin-mungkin saja. Mungkin aku ditabrak mobil atau sambil jalan berangkat kerja tiba-tiba aku mati saja atau juga besok pagi aku tak bangun-bangun lagi dari tidurku malam ini.
Kalau memang aku mati besok ya sudahlah, aku mati. Selamat tinggal.
Aku mencintai kalian keluargaku, dan kalian juga kawan-kawan. Tamatlah perjuangan kesenianku. Tamatlah perjuangan kemanusiaanku. Lukisan-lukisanku untuk kalian keluargaku. Tulisan-tulisanku untuk kau Bur*.
Ttd.
1 Juli 1985
________________
*Bur adalah sahabatku M. Agus Burhan. Sekarang dia adalah Dr. M. Agus Burhan, Dekan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta Ini info mengenai dirinya dari gudeg.net:
Berkesenian baginya adalah suatu panggilan jiwa. Bakat tersebut kemudian mengkristal sehingga memotivasinya untuk terus mendalami seni rupa (lukis). Seiring beranjak dewasa, ia mulai berpikir bagaimana caranya menjadikan bakat sebagai profesi. Demi alasan itu ia masuk di Jurusan Seni Rupa STSRI—sekarang Institut Seni Indonesia—dan lulus tahun 1986.
Selama menjadi mahasiswa, Burhan sudah aktif berpameran, di antaranya di Taman Budaya, Museum Fatahillah, dan tentu saja di kampusnya. Sementara itu, pamaran tunggalnya yang pertama kali digelar di CCF Jakarta pada tahun 1986. Selain berpameran di dalam negeri, Burhan pernah berpameran di Trainal Osaka Jepang dan Pameran Keliling ASEAN.
Kebanyakan karya-karya Burhan berbentuk seperti artefak masa lalu dengan media cat minyak di atas kanvas. Namun, bentuk arkaid tersebut ia gunakan sebagai sarana pengungkapan isu-isu aktual. Mengenai tema, Burhan mengaku karya-karyanya bertemakan "kesakitan sosio-kultural" yang mewabah di lingkungannya.
Salah satu karyanya yang paling menonjol berjudul Dari Cap Gomeh ke Ironi Euforia (1998). Menurutnya, karya tersebut ada kaitannya (interteks) dengan karya Cap Gomeh-nya Sujoyono. Saat buku ini disusun, Burhan tengah bereksperimen dengan media lain yakni tinta di atas kertas (drawing) sebagai perkembangan dari lukisan cat minyaknya.
Kini selain tetap eksis di dunia lukis juga aktif sebagai kurator di Galeri Nasional. Di luar itu ia juga mengajar seni lukis dan Pengkajian Seni (S2) di Institut Seni Indonesia; juga pada Pengkajian Budaya dan Media (S2); serta Pengkajian Seni Rupa dan Pertunjukan (S3) di Universitas Gajah Mada (UGM).
ydb, washington dc, 18.10.2014
berpikir itu nikmat.
jaga bara!
7777777