Thursday, September 18, 2014

SAJAK PERGILAH

*******
PERGILAH
Ditinggal.
Ditinggalkan lagi. 
Dulu dan kini.
Lama-lama kebal juga hati.
Kian biasa jalan sendiri.
Seribu duri tak banyak arti.
Hidup adalah puisi, mati sunyi abadi.
Pergilah.
Pergilah kau mengejar mimpi.
Disini kau terbakar panasnya api.
Disini hilang bulan datang mentari.
Lari mentari bulan kembali.
Pergilah, tapi jangan kau sesali.
Nurani tak bisa dibohongi.
Rahasia duka di dalam sepi.
Rahasia cinta di dalam hati.
***
Yuno Delwizar Baswir, Washington DC, USA, 16092014
Salam Damai dan Kasih untukmu Semesta
Jaga Bara!
*******

API KREATIF / THE FLAME OF CREATIVITY

*******
Seniman harus terus menjaga nyala api kreatifnya.
Ia harus aktif membuka pintu-pintu kreatifitas, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya. Daya didapat dari Daya. Bara berubah menjadi Nyala. Cinta tidak ditunggu. Ilham harus diburu.
ydb, washington dc, usa, 16092014
salam damai dan kasih untukmu semesta
jaga bara!

*******

SAJAK PERGI

*******
PERGI
Kau kan pergi.
Aku kan pergi.
Dia kan pergi.
Karena rumah kita bukan di sini.
Rindu kita di sana: Rumah Misteri.
Cinta kita di Singgasana, bukan di singgasini.
Tiap jantung menghitung detak.
Dalam riuh dan dalam sunyi.
Ingin sampai ingin berhenti.
Dalam rangkul peluk Ilahi.
*
YDB, Washington DC, USA, 14092014
Salam Damai dan Kasih untukmu Semesta
Jaga Bara!
*******

JANGAN TERKECOH

******
Janganlah terkecoh oleh karya seni yang tampak dari luar membangkitkan rasa takjub dan kagum dalam diri anda.
Sebagian dari karya-karya yang "menakjubkan" dan "mengagumkan" itu sebenarnya hampa makna. Kalaupun ada, tak seberapa.

ydb, washington dc, usa, 13092014
salam damai dan kasih untukmu semesta
jaga bara!

*******

"The Golden Shit" oleh Heri Dono [2]

*******
Betul sekali kata Bung Fadzil Idris [Malaysia].
Orang Amerika bilang:" Beauty is in the eye of the beholder."
Setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda mengenai apa INDAH itu.
Saya pernah menulis tentang "konteks" dalam karya seni. Terbukti bahwa tanpa mengetahui konteks dalam patung "The Golden Shit" [Tahi Emas] karya Heri Dono, yang menggambarkan seekor anjing sedang buang air besar, orang akan tidak mengerti apa tujuan Heri membuat patung itu dan apa makna karya itu. Orang akan mempunyai penafsiran mereka masing-masing tentang karya itu. Penafsiran itu bisa jadi bertolak belakang dengan apa yang dimaksudkan oleh Heri.
Tapi itu juga sah, karena seperti yang pernah saya tulis, orang akan membawa pengalaman, pengetahuan, perasaan mereka masing-masing ketika mereka berhadapan dengan karya seni. Selain itu, karya seni juga dapat dinikmati dari berbagai level dan segi, baik level atau segi wujud maupun makna.
Banyak karya seni yang hebat memiliki multi makna dan multi penafsiran.
Bung Fadzil benar, melepaskan sepatu di luar rumah akan dengan mudah kita apresiasi dan hargai. Orang Jepang pun bisa. Tapi tidak demikian orang Eropa atau orang Amerika. Mereka menganggap itu hal yang ganjil dan mencengangkan. Dan tentu saja, mereka punya alasan mereka sendiri.
Pembacaan dan penafsiran orang di Jerman atas karya Heri Dono "The Golden Shit" [Tahi Emas] itu dapat dipastikan berbeda dengan pembacaan dan penafsiran kita di Indonesia atau juga di Malaysia.
*
ydb, washington dc, usa, 10 september 2014
salam damai dan kasih untukmu semesta
jaga bara!
*******

"The Golden Shit" oleh Heri Dono

*******
Teman-teman IACA yang baik,
Menarik sekali perbincangan kita kemarin tentang karya perupa Heri Dono yang berjudul "The Golden Shit." Asyik ya memasuki karya seni dan membicarakannya. Kita tidak berhenti hanya pada memandang bentuk luar karya saja.
Sebenarnya Heri sendiri sudah menjelaskan karyanya itu dan memberitahu kita tentang bagaimana munculnya ide untuk membuat patung itu. Sederhana sekali sebenarnya. Simaklah kutipan di bawah ini dari The Jakarta Globe:
[Terjemahan bebas saya dalam bahasa Indonesia ada di bawah]
In December, the 51-year-old artist displayed his unique sculpture of a white porcelain dog defecating, entitled “The Golden Shit,” at an art gallery in Berlin. The sculpture was meant to protest the road signs that he saw along the roads in the city of Nordsee, on the island of Wangerooge, Germany, requiring dog owners to dispose of their pets’ waste.
“Dog shit is seen as something dirty and disgusting,” he said. “But actually, it can be recycled into something useful and valuable. In Switzerland, for example, they recycle human waste and turn it into biogas energy for the city’s central heating system.”
-----------
Pada bulan Desember [2010 - ydb], artis berusia 51 tahun [sekarang 54 tahun] memamerkan patung anjing yang sedang BAB yang terbuat dari porselen putih, berjudul "Tahi Emas," di sebuah galeri seni di Berlin. Patung itu dimaksudkan untuk memprotes tanda-tanda di jalan yang Heri lihat di sepanjang jalan di kota Nordsee, di pulau Wangerooge, Jerman, yang mengharuskan pemilik anjing membuang kotoran hewan peliharaan mereka.
"Tahi anjing dipandang sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikkan," katanya. "Tapi sebenarnya, kotoran anjing itu dapat didaur ulang menjadi sesuatu yang berguna dan berharga. Di Swiss, misalnya, mereka mendaur ulang kotoran manusia dan mengubahnya menjadi energi biogas untuk sistem pemanas sentral kota."
ydb, washington dc, usa, 9 september 2014
salam damai dan kasih untukmu semesta
jaga bara!
*******

Thursday, September 11, 2014

MAINKAN PERANMU

*******

MAINKAN PERANMU!
oleh Yuno Delwizar Baswir

Tiap orang memainkan perannya.
Tiap orang bermain.
Sebagian bermain-main.
Kebanyakan dipermainkan.
Pemimpin bermain sebagai pemimpin.
Rakyat bermain sebagai rakyat.
Penguasa bermain sebagai penguasa.
Pembunuh, pembunuh.
Koruptor, koruptor.
Penjahat, penjahat.
Pemerkosa, pemerkosa.
Penindas, penindas.
Penghasut, penghasut.
Ulama, ulama.
Pendeta, pendeta.
Seniman, seniman.
Penonton,penonton.
Semua bermain.
Banyak yang lupa kala bermain.
Banyak berlumur dosa kala bermain-main.
Sungguh kasihan yang dipermainkan!

Kawan,
Apa peranmu?
Dimana posisimu?
Siapa kawanmu?
Siapa pula musuhmu?
Tuhankah sutradaramu?
Atau Setankah teman mainmu?

Ada yang tertawa kala bermain.
Ada yang menangis.
Ada yang meringis.
Ada yang terluka.
Banyak yang kehilangan nyawa.

Tiap orang bermain.
Banyak yang hanya main-main.
Apa peranmu dalam permainan ini, Kawan?
Kesempatan mainmu hanya sekali ini.
Begitu kau mati, tak ada lagi.
Apa yang kau puja?
Siapa yang kau bela?

Ini dunia gila.
Kejahatan merajalela.

Peranmu mainkan saja!

*

Washington DC, U.S.A.
29-12-2007
-------------------------------------------------
Salam Damai dan Kasih untukmu Semesta

*******

SENIMAN DAN KARYANYA

*******

Sejak dulu seniman menggunakan karya seni untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya kepada orang lain, kepada dunia. Melalui karya seni, ia juga mengabadikan pikiran dan perasaannya.
Seniman yang hebat menyadari sepenuhnya tentang dahsyatnya kemampuan karya seni untuk membawa pesan, bagaikan dahsyatnya kemampuan alam semesta membawa wahyu Tuhan Sang Maha Pencipta. Manusia yang hebat menyadari sepenuhnya tentang dahsyatnya kemampuan wahyu Tuhan mengubah tingkah laku manusia akibat perubahan dalam pikiran dan perasaannya. Begitu pula dengan seniman yang hebat, ia menyadari sepenuhnya tentang dahsyatnya kemampuan karya seni untuk membawa pesan yang dapat mengubah pikiran dan perasaan orang lain, dengan demikian mengubah tingkah laku mereka.
Karya seni mampu mengubah manusia menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang lebih manusia, manusia yang lebih sempurna.
Tapi tidak semua seniman menyadari ini. Terlalu banyak manusia menyia-nyiakan alam semesta, menyia-nyiakan wahyu. Terlalu banyak seniman menyia-nyiakan karya seni. Terlalu banyak karya seni yang tanpa isi - indah di luar tapi tak berisi pikiran dan perasaan berkualitas tinggi di dalamnya. Akibatnya, terlalu banyak karya seni yang tidak "menolong", tidak "menyembuhkan", tidak mengubah tingkah laku manusia lain. Karya seni begini dihasilkan oleh seniman yang tidak hebat, meskipun ia "populer", disanjung banyak orang. Seniman yang tidak hebat ini menyia-nyiakan kemampuan karya seni. Ia tidak mampu menghargai kedahsyatan karya seni sepantasnya, selayaknya. Karya-karya mereka hanya bisa digunakan untuk hiburan sepintas lalu. Karya-karya mereka tidak menimbulkan perenungan di pihak penikmat. Karya-karya mereka rendah mutunya.

Karya-karya bermutu rendah akan dilupakan. Seniman penciptanya pun akan dilupakan.

*

Yuno Delwizar Baswir.
Washington DC, U.S.A.
15 Juni 2014
Salam Damai dan Kasih untukmu Semesta

*******

SENIMAN

*******
Seniman, seperti manusia lain, harus memilih dalam hidupnya. Ia harus terus-menerus memilih dalam berkarya. Pilihan yang dibuatnya akan menunjukkan siapa dia, dan kualitasnya sebagai seniman.
Banyak seniman yang memilih untuk terus kreatif. Tapi banyak pula seniman yang memilih untuk berhenti kreatif.
Seniman kreatif akan terus mencari hal-hal baru untuk diekspresikan, dan cara-cara baru pula untuk mengekspresikannya. Mengulang-ulang hal lama dan cara-cara lama bukanlah kebiasaannya. Baginya, dia berhenti menjadi seniman kreatif ketika dia melakukan pengulangan. Kegelisahannya adalah kegelisahan seorang pencari. Kebahagiaannya adalah kebahagiaan seorang penemu dan pencipta.
Banyak seniman, karena berbagai alasan, berhenti menjadi kreatif. Bisa jadi dia telah berusaha mencari hal baru dan cara baru untuk disampaikan, tapi dia tidak menemukannya. Bisa jadi dia tidak lagi kreatif karena kemalasan mencari. Bisa pula karena perasaan nyaman. Dia merasa nyaman dengan apa yang sudah dicapainya, dengan kepopulerannya, dengan uang atau harta yang sedang dinikmatinya sebagai imbalan dari penjualan karya-karyanya. Kenyamanannya membunuh kreatifitasnya. Kenyamanannya adalah kenyamanan seorang yang tidak lagi perlu mencari.

Seperti manusia lain, seniman hendaknya peduli tentang lingkungannya, tentang apa yang terjadi di sekitarnya, di kotanya, di negaranya, di dunianya. Kejadian di sekitarnya sesungguhnya adalah inspirasi yang tak habis-habisnya baginya dalam menciptakan karya-karya yang kreatif.
Sebaiknyalah dia terlibat dalam dialog yang sedang berlangsung tentang persoalan-persolan yang sedang dihadapi zamannya. Karya-karyanya seharusnya mencerminkan hal-hal yang sedang terjadi di zamannya.
Banyak seniman memilih untuk tidak peduli dengan persoalan-persoalan yang dihadapi zamannya, persoalan-persoalan yang sedang terjadi di sekitarnya.
Jutaan orang menderita di sekitarnya, ratusan ribu mayat bergelimpangan di negerinya, bencana di mana-mana, pemimpin dan penguasa buruk menyalahgunakan kekuasaan mereka, namun seniman-seniman ini tetap saja bicara tentang keindahan warna, garis, tekstur, komposisi, keindahan bulan dan bunga. Karya-karya mereka tak sedikitpun tersentuh oleh atau mencerminkan persoalan-persoalan dahsyat yang sedang berlangsung di sekitarnya. Karya-karya mereka menjadi karya-karya yang asing terlahir di zamannya. Seniman-seniman ini menjadi seniman-seniman asing yang hidup di zamannya. Mereka bukanlah anak-anak zamannya.

Seniman, seperti manusia lainnya, kadang-kadang membuat pilihan yang buruk, tidak saja untuk dirinya, tapi juga untuk dunianya.

*

ydb, washington dc, usa, 5.7.2014
salam damai dan kasih untukmu semesta

*******

IBUKU DAN AKU

*******
Aku baru saja menelpon Ibuku. Usianya 81 tahun. Beliau di Yogyakarta, aku di Washington DC.
Kami menikmati sekali percakapan kami. Kami banyak ketawa.

Lalu aku bertanya:"Ma, Mama masih ingat lukisan Mama yang Del buat dulu itu?"

Ibuku:"Ya ingatlah, lukisan itu kan Del buat setelah Mama kembali dari naik haji tahun 1980. Lukisan itu sekarang ada di rumah lama kita di kampung."

Aku:"Wah, lukisan itu bisa hancur tuh, kan atap rumah lama kita itu bocor-bocor..."

Ibuku:"Kita saja bisa hancur nak, apalagi lukisan..."

Aku:"Hahaha.....iya Ma..."

Ibuku:"Hahaha..."

Ibuku dan aku:"Hahahahaha...."

ydb, washington dc, usa, 11 juli 2014
salam damai dan kasih untukmu semesta!

*******